20090401

ANGIN

Suatu ketika terbesit sebuah khayalan akan ketakutan yang selama ini mengikutiku. Sebuah ketakutan yang saat ini sedikit demi sedikit coba aku hilangkan dari peradaban duniaku. Ketakutan itu kadang bisa membuatku pusing, mual, muntah, bahkan pingsan.
Ya, takut…

Hingga pada suatu ketika itu,
Aku ingin buang angin.
Dimana?
Kanan ada angin badai.
Kiri ada angin turutan.
Belakang ada angin puting beliung.
Depan ada angin puyuh.
aHa!!!
Aku akan naik kereta angin sambil berangin – angin dan keanginan.
Sembari mencari dimana angkara tuk membuang angin itu.
Ahh, segarnya ada yang mengangini..
Uwh,ada kabar angin menghentikanku!
Ada apa ini?!!!
“Nyonya,angkara telah menghilang” ujar si kabar angin.
“Apa?! Bagaimana bisa?!!! Lalu bagaimana aku..” rengek-ku.
“Sudahlah,nyonya… Terima saja nasibmu itu! Hahaha..” ejek si kabar angin.
“Tidak!!!” hentak-ku.
Terus ku cari angkara dengan kereta anginku.
Telah ku lalui banyak mata angin.
Utara, Timur, Selatan, Barat.
“Oh,tuhan!!!”
“Apa kamu murka??!!!”
“Dimana kepedulianMu??”
“Apa aku banyak makan angin?!!”
“Tidak,tuhan!!!”
“Tuhan,jangan biarkan aku masuk angin…” tangis-ku.

Hingga pada akhirnya,mau tak mau aku harus mempertahankan angin itu di dalam perutku. Merasakan gelembung angin yang perlahan merambat melalui usus, lambung, tenggorokan dan kemudian bersendawalah aku.
Sungguh tidak nikmat ini,Tuhanku…
Tapi terimakasih,Tuhan..
Aku tidak jadi masuk angin..